Keragaman Budaya Nusantara

Budaya nusantara memperkokoh persatuan bangsa.

Reyog Ponorogo

Reog Ponorogo masuk ke dalam list ke-39 sebagai WBTb UNESCO, yang akan disidangkan pada 2024.

Wayang

Wayang adalah salah satu seni tradisional Indonesia yang penuh warna, kaya makna, dan mendalam dalam budaya bangsa.

Kamis, 25 Januari 2024

SAGUSABLOG LANJUTAN (89)

Ikatan Guru Indonesia (IGI) adalah organisasi guru yang didirikan pada tahun 2000 dengan nama Klub Guru Indonesia. IGI secara resmi menjadi badan hukum dibawah kepemimpinan Ahmad Rizali pada tanggal 26 November 2009 berdasarkan Surat Keputusan Nomor AHU-125.AH.01.06 Tahun 2009 dari Kementerian Hukum dan HAM. Sejak mendapat pengesahan resmi dari pemerintah sebagai organisasi guru, IGI terus berkonsentrasi penuh pada peningkatan kompetensi guru. Bagi IGI, ujung pangkal dari semua persoalan pendidikan di Indonesia terletak pada rendahnya kompetensi guru Indonesia baik kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial maupun kompetensi kepribadian. IGI sendiri memiliki kurang lebih 67 kanal pelatihan yang aktif meningkatkan kompetensi guru dengan semangat sharing and growing together. Tujuan mencerdaskan bangsa dari organisasi penggerak pendidikan ini semakin mantap setelah terdaftar dalam Program Organisasi Penggerak (POP) yang dicanangkan dan diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia. Peran Ikatan Guru Indonesia diantaranya melaksanakan pendidikan dan pelatihan. Menjalin kerjasama dengan semua pihak di dalam dan luar negeri. Menjembatani komunikasi sesama guru untuk berbagi pengalaman dan melaksanakan pembelajaran dan kegiatan lain yang berkaitan dengan pendidikan. SAGUSABLOG (Satu Guru Satu Blog) merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia. SAGUSABLOG bertujuan mengajak Guru diseluruh Indonesia untuk belajar bersama membuat media pembelajaran berbasis blog, sehingga pembelajaran bisa lebih menyenangkan dan tidak lagi terbatas dengan jarak dan waktu. SAGUSABLOG membuka workshop online menggunakan sarana chating melalui aplikasi telegram, dibantu dengan modul dan video pembelajaran sehingga mudah dipahami peserta workshop online walaupun belajar mandiri dirumah masing-masing. Selain Workshop Online, SAGUSABLOG juga sering mengadakan kegiatan workshop live di beberapa daerah di Indonesia dengan mendatangkan pelatih-pelatih SAGUSABLOG Nasional.

Rabu, 24 Januari 2024

Kerajinan Tembaga


Kerajinan cermin dari tembaga
Kabupaten Boyolali dikenal sebagai kota penghasil susu. Kabupaten yang berada di sisi timur lereng Gunung Merapi dan Merbabu ini memiliki banyak Desa Wisata menarik untuk dikunjungi. Salah satunya ialah Desa Wisata Cepogo di Kecamatan Cepogo. Desa Wisata Cepogo terletak 16 km arah barat daya dari pusat kota Boyolali. Waktu yang diperlukan untuk mencapai desa ini sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi. Akses menuju Desa Cepogo melalui jalan berliku dengan kondisi baik dan sudah beraspal. Setelah tiba di Pasar Cepogo, terus mengikuti jalan arah ke Selo sekitar 1 km, kemudian ada café Coger Merapi di sebelah kanan jalan. Maju sedikit ada tikungan bercabang, pilih jalur ke kanan dan terdapat gapura bertuliskan Wisata Desa Cepogo. Ikuti papan penunjuk jalan yang tersedia. Sejarah Desa Cepogo tidak terlepas dari Dukuh Tumang sebagai pusat pemerintahan desa. Nama Dukuh Tumang merupakan lokasi industri kerajinan logam yang dikenal di masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri dibanding nama Cepogo. Keahlian masyarakat Tumang dalam membuat kerajinan logam telah ada sejak ratusan tahun lalu. Dalam perkembangannya, pengrajin kerajinan logam dapat dijumpai di seluruh wilayah Desa Cepogo.
Kerajinan tembaga
Kerajinan logam Desa Cepogo berbahan utama tembaga dan kuningan. Jenisnya pun sangat beragam, ada lampu gantung, hiasan dinding, perabot rumah tangga, kaligrafi, dan lain-lain. Pelanggan bisa memilih produk ready stock atau make to order. Kerajinan tembaga di Desa Tumang sangat bagus dan bias dibeli dengan harga terjangkau mulai dari 500.000-7.500.000. Bila berminat bisa menghubungi 08973864578.

Senin, 22 Januari 2024

SOAL PENILAIAN SUMATIF SENI BUDAYA KELAS XI

 PENILAIAN SUMATIF SENI BUDAYA KELAS XI

Petunjuk pengerjaan soal PENILAIAN SUMATIF ONLINE sebagai berikut:

Langkah-langkah pengerjaan soal secara online menggunakan Google Form mulai dari memastikan akun Gmail, membuka link soal, mengisi identitas diri, memilih jawaban, mengirim jawaban, dan melihat hasil.

Kerjakan penilaian sumatif berikut ini :


Waktu Pengerjaan: 20:00 menit!





 Hasil bisa dilihat dibawah ini:


Hubungi Saya

 Saya dapat dihubungi melalui

budayanusantara@gmail.com atau 08765283960

LATIHAN SOAL

 Kerjakan latihan soal beriku ini.

Latihan Soal

Tari Hudoq

 Hudoq adalah tarian tradisional suku Dayak Modang yang terdapat di beberapa kecamatan di Kab. Kutai Timur, Prov. Kalimantan Timur. Tari Hudoq merupakan tarian sakral yang erat kaitannya dengan prosesi ritual atau upacara adat. Tari Hudoq menurut ceritanya berasal dari kisah seorang anak Raja di Kampung Laham Kejin, Epa Kejin, Apo Kayan, bernama Halaeng Heboung yang menikah dengan Selo Sen Yaeng, seorang makhluk gaib dari sungai. Tarian ini dilakukan untuk tetap menjaga jalinan hubungan antara Halaeng Heboung dan Selo Sen. Dimana Halaeng Heboung meninggal ketika menyelam kedalam sungai untuk mengambil mandaunya. Oleh sebab itulah ritual Hudog ini dilakukan. Saat menari, para penari Hudoq menggunakan topeng yang menyerupai binatang buas dan terbuat dari kayu. Tubuh mereka ditutupi dengan daun pisang, daun kelapa, atau daun pinang. Masing-masing penari itu akan memunculkan karakter tokoh-tokoh hudoq (gambaran dewa yang memiliki kekuatan gaib). Dalam pelaksanaannya Hudoq diawali dengan Sakaeng Ngaweit, yakni ritual monolog kepada Hudoq yang bertujuan untuk menyampaikan permohonan. Setelah itu, sekelompok ibu/perempuan dewasa menari dan melantunkan syair, membentuk arak-arakan di sepanjang jalan menuju rumah adat (lamin adat atau Maeso Puen). Tari Hudoq berkaitan dengan usaha perladangan, pencapaian hasil yang maksimal, peningkatan kesejahteraan, serta penciptaan suasana damai, tenteram dan harmonis antara manusia dengan alam. Khusus di usaha perladangan, Hudoq dimaksudkan untuk memeroleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan kesuburan dengan hasil panen melimpah. Hudoq ditarikan dengan komposisi melingkar, keluar dan masuknya penari dilakukan secara spontan/tidak ada aturan khusus. Kemampuan para penarinya dalam menghayati dan melakoni tokoh-tokoh hudoq sangat penting, karena mereka berperan seolah-olah sebagai mediator dari kekuatan gaib yang diharapkan pertolongannya. Topeng hudoq terbuat dari kayu khusus, seperti Jelutung, Pelay, atau Kemiri yang ringan dan tahan lama. Mengingat tari Hudoq dikenal pula pada subsuku Dayak lainnya di luar Dayak Modang, yaitu Dayak Bahau, Kayan dan Kenyah, maka ?Hudoq Modang? memiliki ciri dan karakter yang khas, baik dari tampilan topeng (nyeung hedoq) maupun penyebutan tokoh-tokoh hudoq-nya. Beberapa tokoh hudoq yang dikenal di antaranya adalah roh guntur (delay), roh harimau (lejie), roh penolong manusia ke alam baka (pen leih), roh buaya (wah jaeg), roh ikan belut (telea), roh burung elang (nyehae), roh babi (ewoa), jelmaan roh manusia (sehuen), roh kera (yoq), dan jelmaan roh pengganggu (hedoq menlieu). Di samping sarat dengan nilai religi, tari Hudoq juga menggambarkan adanya nilai kebersamaan dan gotong royong, tontonan/hiburan, ikatan kepentingan bersama, serta kekeluargaan.

Tari Bedhaya Ketawang

 Tari Bedhaya Ketawang merupakan sebuah seni pertunjukan warisan budaya yang berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta. Tari ini merupakan tari kebesaran yang hanya di pertunjukan pada saat penobatan serta peringatan kenaikan tahta raja di Keraton Kasunanan Surakarta. Nama Tari Bedhaya Ketawang diambil dari kata “Bedhaya” yang berarti penari wanita di istana, dan “Ketawang” atau “Tawang” yang berarti langit, atau sesuatu yang tinggi, mulia, dan luhur. Tari Bedhaya Ketawang dianggap sebagai bedhaya yang tertua dan dijadikan sebagai kiblat dari tari bedhaya lainnya yang lebih muda. 

Tari ini menceritakan Panembahan Senopati, yaitu raja pertama dari Dinasti Mataram dengan Kanjeng Ratu Kidul. Tari ini dibawakan oleh sembilan orang penari. Dalam pementasannya, konon Nyai Roro Kidul akan ikut menari dan menggenapi jumlah penari menjadi sepuluh orang. Meskipun Tari Bedhaya Ketawang merupakan hasil warisan dari kesultanan Mataram, namun tari ini hanya dipentaskan di Kasunanan Surakarta. Hal ini sesuai dengan Perjanjian Giyanti tahun 1755, yang mana perjanjanjian ini membagi Kerajaan Mataram menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Pembagian wilayah ini juga dibarengi dengan pembagian kebudayaan serta kesenian yang ditinggalkan oleh Kerajaan Mataram, salah satunya adalah Tari Bedhaya Ketawang. Untuk mengetahui lebih detail bisa dilihat 


Penari tarian Bedhaya Ketawang tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Terdapat beberapa syarat yang harus dipatuhi oleh seorang penari Bedhaya Ketawang. Beberapa syarat tersebut di antaranya: 

  1. Para penari harus dalam keadaan suci dan tidak sedang mengalami menstruasi. 
  2. Para penari harus masih dalam keadaan perawan. 
  3. Para penari berusia antara 17-25 tahun. Umur tersebut dipilih karena masih mempunyai kekuatan untuk menari selama 1,5 jam dan masih memiliki kulit yang kencang, cantik, dengan wajah yang berseri-seri. 
  4. Seorang penari harus memiliki postur tubuh yang proporsional dan memiliki daya tahan tubuh yang baik.
  5. Dan yang terakhir, seorang penari harus melakukan puasa mutih. Yaitu puasa dengan tidak makan selain makanan yang berwarna putih selama beberapa hari.

 

Kemudian busana yang dikenakan pada penari Bedhaya Ketawang yaitu menggunakan dodot ageng atau basahan yang dipadukan dengan kain cindhe kembang warna ungu. Rambu penari dihias dengan gelung bokor mengkurep. Kemudian penari Bedhaya Ketawang menggunakan aksesoris seperti kentrung, garuda mungkur, sisir jeram saajar, cundhuk mentul, dan tiba dhadha. Kostum yang digunakan tersebut merupakan kostum pengantin perempuan Jawa Tengah. 

 

Lalu pengiring yang digunakan untuk mengiringi tarian Bedhaya Ketawang adalah gamelan, yang terdiri atas lima macam yang berlaras pelog pathet lima. Gamelan tersebut yaitu gendhing (kemanak), kala (kendhang), sangka (gong), pamucuk (kethuk), dan sauran (kenong). Terdapat beberapa aturan yang harus ditaati oleh penonton pada saat pertunjukan Tari Bedhaya Ketawang berlangsung. Pertama, tidak boleh makan. Kedua, tidak boleh merokok. Lalu yang terakhir, para penonton harus diam dan tidak boleh mengobrol atau berbicara. Sudah sebaiknya kita menghargai dan menjalankan pakem dalam penyelenggaraan Tari Bedhaya Ketawang tersebut. Agar, keasliannya dan keberadaannya tetap terus terjaga.